Author Archive

MOCH. ZAFRI ARISTIAWAN

Dunia usaha membutuhkan iklim ekonomi kondusif untuk berkompetisi dalam semua aspek dan melakukan kontribusi nyata bagi sumbangsih perekonomian dalam negeri serta berperan aktif meyerap tenaga kerja pada proses produksi, sehingga jumlah pengangguran bisa terserap maksimal apabila dukungan ekonomi kondusif tersebut dikondisikan serta mendapat jaminan oleh stake holder terkait. Saat ini Pemerintah sedang menjalankan konsep dimana harga bahan bakar minyak(BBM) mengikuti  naik turunnya harga keekonomian minyak dunia. Merujuk pada data Nasdaq, harga Crude Oil  per tanggal 6 April 2015 sebesar  $49,14/Barrel sedangkan harga Crude Oil Brent sebesar $ 54,95/Barrel, sebuah harga tidak biasa di dunia perminyakan karena terlampau murah jauh di bawah harga profitable produsen minyak Negara Amerika Serikat yang seharusnya bisa diharga $80/Barrel(Steve Austin), namun lain halnya dengan Negara Saudi Arabia yang mengklaim harga profitable oil sebesar $50(www.oil-price.net).  Tren menurunnya harga minyak dunia ini diyakini semua pihak hanya sementara dan tidak lama lagi akan mengalami tren positif berupa kenaikan, pasar minyak dunia pasti masih ingat betul didalam benak mereka pada bulan juni 2014 tahun lalu harga minyak dunia jauh lebih mahal diluar dugaan sampai tembus di angka $107/Barrel. Tren harga minyak dunia serta kurs mata uang dollar sangat berpengaruh juga dengan fluktuasi harga BBM di Indonesia dimana saat ini Pemerintah membandrol harga BBM jenis Bensin Rp 7.300/liter dan Solar Rp 6.900/liter sedangkan kurs mata uang dollar terhadap rupiah mengalami depresiasi di akhir bulan Juli 2014 sebesar Rp 10.000/dollar sampai pada pembukaan perdagangan valuta hari ini sebesar Rp 13.065/dollar(kursdollar.net/).

Menyadari akan penurunan harga minyak dunia ini, pemerintah semestinya melakukan langkah terbaik dengan tidak menyerahkan sepenuhnya penentuan harga BBM dalam negeri kepada mekanisme pasar secara total karena bertentangan dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang  menyebutkan “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”

Dunia usaha sangat mendambakan adanya kestabilan kondisi ekonomi dimana fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar bisa menguat serta harga bahan bakar minyak bisa stabil sehingga penentuan harga pokok produksi (HPP) suatu produk bisa dikalkulasi secara rigid serta se-efisien dan semurah mungkin agar bisa bersaing dengan produk serupa  atau produk lain dipasaran. Harga pokok produksi dapat diartikan sebagai jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memproses bahan baku menjadi barang jadi dalam periode tertentu.  Adapun komponen penyusun HPP antara lain: Biaya bahan baku, biaya bahan pembantu produksi, biaya tenaga kerja serta biaya overhead factory. Dengan adanya kenaikan harga BBM secara berjangka waktu di setiap bulannya tentunya proyeksi penentuan harga pokok produksi masih bisa dibilang meraba-raba karena tidak semua penyusun komponen HPP bisa tetap stabil harganya setelah harga BBM naik, begitupun saat terjadi penurunan harga BBM, harga bahan baku(raw material) seringkali tidak mengalami penurunan. Tidak sampai disitu, biaya distribusi barang memakai jasa expedisi juga langsung reaktif dengan adanya kenaikan harga BBM namun sebaliknya apabila harga BBM turun, pihak expedisi tidak serta-merta mau menurunkan ongkos pengiriman.

Dengan adanya ketdakstabilan kondisi ekonomi semacam ini, kebanyakan dunia industry memainkan pola buffer stok untuk mengantisipasi lonjakan kenaikan harga bahan baku mengikuti naiknya harga BBM. Industry padat karya yang memiliki modal cukup besar bisa merilis kontrak harga pembelian jauh hari sebelum adanya kenaikan harga BBM atau deal kontrak pembelian saat harga bahan baku di titik terendah atau dibawah harga produksi, bagi industry seperti ini tentunya adanya kenaikan harga BBM tentunya tetap berpengaruh pada proses produksi tetapi pengaruhya tidak begitu signifikan karena stok bahan baku melimpah ruah dengan kontrak harga pembelian cukup terjangkau. Namun bagi industry padat karya berkantung cekak tentu hal tersebut tidak bisa dilakukan karena terbatasnya sumberdaya yang ada sehingga dengan terpaksa harus mengikuti fluktuasi kenaikan harga bahan baku penyusun suatu produk, apabila ada rekanan atau konsumen industry seperti ini melakukan kontrak pembelian tanpa dengan acuan harga barang saat ini sedangkan pengiriman produk masih beberapa bulan kedepan tentunya terjadi plus-minus diantara kedua belah pihak. Resiko plus/keuntungan bagi produsen berupa adanya kontrak pembelian dengan pengiriman berjangka panjang bisa memaksimalkan aktivitas pada factory bersangkutan serta mendapatkan dana segar berupa uang muka(DP) sebagai tambahan modal untuk segera memproduksi produk yang telah di pesan oleh pelanggan dalam jumlah besar serta meningkatkan penyerapan karyawan untuk proses produksinya. Resiko minus/kerugian bagi produsen disaat harga kontrak pembelian sudah disepakati, ternyata pada keyataannya dalam masa pengerjaan suatu produk terjadi kenaikan harga bahan baku cukup signifikan maka yang terjadi adalah pihak produsen sesuai komitmen harus tetap memproduksi produk yang dipesan dan harus dikirimkan sesuai dengan jadwal meskipun harus menanggung rugi cukup besar akibat factor tak terduga berupa kenaikan bahan baku serta naiknya harga bahan pendukung lain dalam proses produksi.

Bagi konsumen, dengan adanya kontrak pembelian dengan jadwal pengiriman beberapa bulan kedepan tentu sudah diprediksi oleh bagian PPIC(production, planning and inventory control) untuk memastikan tersedianya bahan baku pertama agar proses produksi berjalan lancar serta menghindari kemungkinan terjadinya kenaikan harga secara tiba-tiba dari produsen bahan baku pertama. Melakukan kontrak pembelian dengan pengiriman berjangka waktu bukan tanpa resiko bagi konsumen, ada resiko saat terjadi penurunan harga produk yang telah disepakati sebelumnya karena adanya penurunan komponen penyusun harga pokok produksi suatu produk namun harga tersebut tidak bisa berubah mengacu pada kesepakatan. Apabila harga bahan baku naik drastis perasaan cemas juga dirasakan oleh konsumen karena bisa jadi produsen tidak bisa melanjutkan produksi sesuai kesepakatan dengan melakukan upaya addendum/klausul secara sepihak yang disampaikan kepada konsumen karena dirasa jauh dari hitungan kata untung dan berimbas pada terlambatnya jadwal pengiriman yang telah disepakati. Cukup sulit untuk dipastikan penentuan harga pokok produksi suatu produk jika salah satu penyusun harga pokok produksi itu sendiri naik turun tak menentu.

Adanya kebijakan tidak populis bagi masyarakat yang dijalankan oleh pemerintah saat ini berupa acuan penentuan harga BBM mengikuti fluktuasi harga minya dunia harus diantisipasi dunia usaha padat karya dengan jalan efisiensi serta peningkatan produktifitas secara maksimal agar biaya produksi bisa ditekan semurah mungkin sehingga harga jual suatu produk bisa terjangkau dan bersaing dipasaran ditengah penurunan kemampuan daya beli masyarakat akibat efek berantai kenaikan harga BBM, semoga pemerintah bisa memberikan insentif secara nyata dan komprehensif bagi dunia industri padat karya serta masyarakat Indonesia  pada umumnya menyikapi dampak kenaikan harga BBM ini.

Wallahu A’lam Bishawab,

 

*Moch. Zafri Aristiawan

Penikmat Daging Unggas

www.afco.co.id

MOCH. ZAFRI ARISTIAWAN

Tepat pukul 00.00 tanggal 28 Maret 2015 Pemerintah melalui Kementerian ESDM menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar maupun premium sebesar Rp 500 per liter. Harga premium menjadi Rp 7.300 per liter, sementara harga solar menjadi Rp 6.900 per liter. Alasan Pemerintah menaikkan harga BBM karena menyesuaikan naiknya harga keekonomian minyak. Pada hari ini pula pukul 00.00  atau sebelumnya , harga ayam justru cenderung turun jauh dari harga keekonomian ayam broiler di angka Rp 14,500-15,000 per kilogram, realisasi harga ayam hidup pada jadwal penutupan  harga pengambilan tanggal 27 Maret 2015, rata-rata harga ayam broiler hidup turun Rp 500 per kilogram, seperti data yang diperoleh penulis dari asosiasi Pinsar yang merilis realisasi harga ayam broiler hidup (live bird) hari ini menunjukkan di daerah Jawa Tengah secara average harga live bird dikisaran Rp 11.000 per kilogram, di daerah Jawa Timur harga live birds dikisaran Rp 12.000 per kilogram sedangkan harga ayam hidup di Jabodetabek dikisaran Rp 13.000-14.000 per kilogram.

Sangat kontradiksi memang disaat BBM naik lazimnya masyarakat mengikuti penyesuaian harga kebutuhan pokok termasuk daging yang mestinya mengalami kenaikan juga, setelah diprediksi naik karena ada kabar Pemerintah memimpin pengurangan produksi 20% DOC(Day Old Chick/Anak Ayam Umur Sehari) mulai hari Sabtu, 28 februari 2015(sumber: Pinsar Indonesia) tepat satu bulan lalu ternyata tak bertuah hingga hari ini, kalau di break down kebelakang, semua peternak berfikir bahwa kalau memang ada pengurangan produksi DOC yang menjadi kesepakatan ditingkat nasioal, maka hari ini mestinya harga ayam broiler naik, apa hanya karena mindset kebanyakan peternak latah dengan isu tersebut lalu berbondong-bondong melakukan  chick-in kedalam kandang sebanyak-banyaknya sehingga saat panen hari ini tiba, jadwal panen produksi ayam broiler hidup bersamaan sehingga terjadi over produksi dan akhirnya mekanisme pasarlah yang berbicara, menawar harga ayam hidup semurah-murahnya.

Psikologis pembeli ayam broiler hidup dikandang tentu sudah mendapatkan informasi realisasi harga ayam hidup terkini, sehingga dengan mudah untuk mengambil decision untuk membeli harga ayam hidup didaerah yang harga penjualannya termurah di Indonesia, meskipun jaraknya cukup jauhpun pasti akan dicari dan dibeli tanpa menghiraukan resiko membengkaknya ongkos mahalnya transportasi akibat kenaikan harga BBM, juga adanya resiko penyusutan ayam hidup karena selama diperjalanan ayam tersebut mengeluarkan kotoran berjumlah banyak serta resiko tingginya kematian ayam saat proses transportasi perpindahan ayam dari habitat nyamannya hunian kandang close house menuju tempat tujuan akhir ayam hidup diproses oleh pembeli dapat dipastikan ayam mengalami stress berat karena belum bisa menyesuaikan kondisi ayam yang berdesak-desakan di keranjang pada armada pembawa ayam hidup hiingga akhirnya karena terjepit, terinjak, stress maupun penyakit berujung pada kematian.

Disparitas Harga Ayam Hidup

Adanya disparitas harga ayam hidup yang tidak seragam dan sudah tidak lagi ada pada nilai keekonomiannya ini menimbulkan masalah baru yaitu mutasi besar-besaran ayam hidup secara buatan, semisal harga ayam hidup di Jawa Tengah sangat murah, hal terebut mendorong pembeli dari daerah Jabodetabek mengambil serta membeli ayam hidup secara langsung dari daerah Jawa Tengah dengan mekanisme kesepakatan penentuan nilai nominal harga ayam ditimbang ulang ditempat tujuan, imbasnya para peternak di daerah Jabodetabek yang berharap hasil panen(ex-farm) bisa terjual harga tinggi terpaksa harus gigit jari karena pembeli  tidak jadi membeli ayam hidup dikandang peternak bersangkutan terlebih pembeli pasti membanding-bandingkan harga pembelian ayam hidup yang didapat didaerah lain harganya jauh lebih murah sehingga berdampak sistemik bagi peternak lain di daerah Jabodetabek karena sudah di K.O duluan secara psikologis pada harga jual ayam hidup, kalau problem ini, saya yakin Pemerintah dalam hal ini dinas peternakan sudah mengetahui masalah ini namun terlihat melakukan pembiaran secara nyata.

Kalau harga ayam hidup dibiarkan terlalu murah jauh dibawah harga pokok produksi seperti ini, secara alamiah maupun secara terencanakan para peternak kecil di Indonesia akan terseleksi alam by design dalam hitungan siklus satu atau dua kali panen. Saat peternak kecil sudah pada bagkrut semua giliran peternak besar yang memiliki integrated supply chain menjadi penguasa industri peternakan nasional tanpa memberikan ruang gerak pada peternak baru.

Jalan Pintas Pangkas DOC

Kabar berita bahwa Pemerintah memimpin pengurangan produksi 20% DOC mulai hari Sabtu, 28 februari 2015 bisa jadi meninabobokkan peternak, karena sungguh naïf kalau aturan itu hanya sebatas pada pemotongan produksi DOC dengan harapan agar jumlah populasi ayam hidup kedepannya bisa dikontrol dan dibatasi jumlahnya sehingga saat panen tiba harapannya harga ayam bisa terangkat naik cukup banyak. Wahai Pemerintah, ingatlah bahwa Negara Indonesia bukan hanya di Jawa yang merupakan sentra produksi ayam hidup terbesar di Negeri ini, masih ada wilayah NKRI lain yang minus peternakan ayam sangat membutuhkan pasokan daging ayam cukup banyak dengan harga terjangkau tentunya. Dengan adanya pembatasan jumlah DOC jelas merupakan tanda ketidak berdayaan Pemerintah dalam memberikan ruang gerak dan stimulus bagi peternak ayam di Indonesia, analoginya kalau memang populasi ayam hidup di Jawa sudah dirasa overproduksi dan khawatir kalau terus dibiarkan selama 30-40 hari kedepan setelah DOC masuk kandang terjadi panen massal dan berpengaruh pada turunnya harga ayam, tolong peternak dibantu regulasi kemudahan distribusi ke pelosok nusantara yang minus adanya daging ayam atau diberikan kemudahan perizinan untuk proses ekspor hasil ternak kalau dirasa produksi daging ayam dalam negeri sudah swasembada.

Minggu lalu saya bertemu dengan Bapak Lucky, penduduk dari daerah Maluku Barat Daya yang menceritakan betapa mahalnya harga daging ayam serta kebutuhan bahan pokok lain, Pak Lucky menuturkan “bahwa harga daging ayam Rp 70000 per kilogram sedangkan harga BBM di tingkat pengecer Rp 50000 per liter”. Bapak Lutfi di daerah Timika menuturkan “harga daging ayam di tingkat pengecer Rp 40000 per kilogram”, hal senada juga sampaikan oleh Bapak Rifky di Manado, “harga daging ayam di Manado hari ini ditingkat pedagang kecil Rp 38000 per kilogram”. Bisa dibayangkan betapa lebih mahal lagi apabila kebijakan Pemerintah melakukan upaya paksa jalan pintas dengan melakukan pemangkasan produksi DOC secara nasional, bisa dipastikan harga ayam kedepan jauh lebih mahal di daerah Jawa apalagi di daerah di luar pulau Jawa. Hal ini tentunya menguntungkan bagi peternak besar dan peternak kemitraan karena terbatasnya jumlah DOC sehingga jatah DOC dibagikan secara tebatas pada peternak besar dengan sistem kemitraan, sedangkan peternak kecil dengan sistem mandiri biasanya merasa kesulitan mendapatkan DOC, kalaupun dapat tentu harganya mahal.

Industri penetasan ayam (hatchery) kedepan bisa dikatakan kena pukulan telak karena semestinya secara korporasi diwajibkan meningkatkan kapasitas produksi DOC semaksimal mungkin, namun demi kebaikan dan kesepakatan bersama maka industry penetasan seharusnya patuh dengan intruksi dari Pemerintah tapa adanya insentif jelas buat mereka, bisa saja terjadi kesenjangan antara industry penetasan telur (hatchery) dan industry pakan ternak karena selama ini industry pakan ternak tidak tersentuh (untouchable) oleh Pemerintah, industry pakan ternak juga berperan dominan dengan populasi ayam broiler di Nusantara, beberapa industry pakan ternak besar terintegrasi dari hulu ke hilir bidang peternakan, mulai pabrik pakan ternak, budidaya indukan grand parent stock ayam broiler, penetasan ayam, budidaya ayam broiler, rumah pemotongan ayam, hingga further processing berupa pabrik makanan olahan.

Saatnya Ekspor Interisland dan Internasional

Bagi industry pakan ternak integrated seperti gambaran diatas merupakan suatu kerugian besar apabila mengikuti anjuran Pemerintah untuk memangkas produksi DOC secara ekstrim karena secara otomatis serapan pakan ternak bakal turun drastis terkecuali produksi pakan tetap berjalan normal produksi DOC berjalan normal pula untuk suplai dikalangan internal. Industry pakan ternak memiliki kepentingan cukup besar dengan menyikapi adanya instruksi pemangkasan produksi DOC secara nasional, karena kontrak import pembelian bahan baku pakan ternak terlanjur diteken, stok produksi pakan yang berjumlah ratusan ton sudah tersusun di gudang dan masa kadaluarsa pakan ternak sudah mendekat maka jalan satu-satunya adalah menggenjot produksi DOC sebanyak mungkin, semaksimal mungkin agar alur mata rantai produksi pakan ternak tidak jalan di tempat.

Menurut data United States Department Of Agriculture tahun 2014, Negara Indonesia memproduksi daging ayam broiler sejumlah 1.565 metric ton, sedangkan total konsumsi domestik penduduk Indonesia terhadap daging ayam broiler di tahun 2014 sejumlah 1.565 metric ton (http://www.fas.usda.gov/data/livestock-and-poultry-world-markets-and-trade) . Artinya jumlah produksi ayam broiler dalam negeri sudah terserap habis oleh kebutuhan konsumsi domestic dalam negeri.  Sedangkan proyeksi produksi ayam broiler Indonesia sampai bulan Oktober 2015 mendatang sejumlah 1.625 metric ton dan proyeksi serapan pasar domestik sampai bulan Oktober 2015 mendatang  equivalen sebesar 1.625 metric ton(apps.fas.usda.gov/psdonline/circulars/livestock_poultry.PDF).

Apabila Pemerintah mengklaim bahwa produksi ayam broiler di Indonesia berlebih, sudah selayaknya diberikan peluang untuk ekspor ke luar negeri karena menurut data USDA bulan Oktober 2014 yang lalu, Indonesia masuk dalam rangking 10 dunia produsen ayam broiler. Negara Amerika Serikat menjadi Negara peringkat pertama dunia produsen ayam broiler dengan jumlah 17.254 metric ton, China: 13.000 metric ton, Brazil: 12.680 metric ton, Uni Eropa: 10.070 metric ton, India: 3.725 metric ton, Rusia: 3.200 metric ton, Mexico: 3.060 metric ton, Argentina: 2.100 metric ton, Turki: 1.755 metric ton, Thailand: 1.570 metric ton, Indonesia: 1.565 metric ton.

Melihat kondisi produksi daging ayam broiler yang impas dengan kebutuhan konsumsi domestik, Negara Indonesia selayaknya meningkatkan produksi semaksimal mungkin untuk kran ekspor, bukannya malah memotong jumlah produksi. Sudah saatnya Pemerintah mendorong serta memberikan insentif bagi perusahaan unggas yang terintegrasi serta peternak lokal mandiri untuk melaksanakan ekspor daging ayam keluar negeri serta memberikan kemudahan sarana prasarana pendukung  jalur distribusi daging ayam ke penjuru negeri sebagai antisipasi adanya overproduksi daging ayam nasional serta lebih mendekatkan daging ayam ke daerah-daerah diluar pulau jawa secara dinamis dan berkelanjutan, Semoga!

Jombang, 28 Maret 2015

 

*Moch. Zafri Aristiawan

Penikmat Daging Unggas

www.afco.co.id

 

IKAN LELE

2014-11-27 10.37.09

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan yang banyak dibudidayakan di Indonesia, RPA Wahana Sejahtera foods men jual ikan lele dan membudidayakan lele dengan memanfaatkan limbah padat hasil ekses produksi rumah potong ayam sebagai bahan makanan organic buat ikan lele tanpa adanya zat kimia tambahan.

IKAN LELE

LELE

Ikan lele produksi RPA Wahana Sejahtera foods memilki habitat kolam lele sebanyak 18 buah dengan kondisi fisik kolam lele panjang 9 x 10 meter persegi dengan kedalaman 1 meter dan kolam ikan konsumsi sebanyak 25 buah dengan fisik kolam ikan panjang 4 x 4 meter persegi.

Lele hasil budidaya RPA Wahana Sejahtera Foods memiliki 2 jenis varian: pertama,  lele jenis konsumsi yang memiliki ukuran 8-9 ekor/kg, 9-10 ekor/kg, 10-12 ekor/kg. Kedua, lele jumbo yang memiliki ukuran 2-3 ekor/kg, 1 ekor up/kg.

 Pangsa pasar lele porsi terbesar ada di segmen lele konsumsi, dikarenakan tipe konsumen yang bermukim jauh dari pesisir laut sudah terbiasa makan dengan lauk ikan , terlebih lagi ikan hasil laut di masyarakat dataran rendah dan dataran tinggi yang jauh dari laut menikmati hasil laut kebanyakan berupa ikan tongkol, sedangkan hasil laut berupa udang, ikan kerapu, ikan kakap serta cumi-cumi harganya tidak menjangkau semua kalangan justru cenderung unreachable bagi masyarakat kalangan bawah. Masyarakat sering menjumpai lele dijajakan oleh pedagang sayur mayur sebagai pelengkap item produk yang dijual agar tidak membawa barang yang itu-itu saja.

Kebutuhan konsumsi lele ditingkat kebutuhan rumah tangga sangat baik serapan pasarnya terbukti semakin banyaknya peternak lele yang memfokuskan diri pada budidaya lele konsumsi, selain karena harga ikan lele murah, citarasa serta aroma daging ikan sangat menggiurkan saat disajikan di meja makan keluarga. Selain itu, saat ini ikan lele sudah naik kelas dari asalnya makanan warung tenda kaki lima sekarang sudah menembus pasar horeka(hotel, restaurant, kafe) bintang lima. Lele menjadi primadona wisatawan lokal yang meyukai masakan asal lele karena daging serta lezatnya resapan bumbu tradisonal warisan para leluhur.

Banyak rumah makan menyediakan menu masakan lele sebagai ikon rumah makan tersebut sebut saja warung makan Lele Lela yang memilki jaringan outlet penjual masakan utama asal lele di kota-kota besar di Indonesia, di Purwokerto penulis sempat mencicipi masakan lele produksi resto Sambel Layah Corp dengan masakan lele terbangnya. Sebagai salah satu menu makanan rakyat, ikan lele sudah sejajar dengan daging ayam, daging sapi serta ikan lainnya pada sajian menu di rumah makan.

Pangsa pasar lele yang lain adalah pasar industry dimana kebutuhan ikan lele untuk diproses di industry pengolahan ikan terbilang cukup banyak dengan spesifikasi ikan lele tertentu. Ikan lele yang di pakai untuk industry biasanya memiliki tekstur tubuh lebih besar dengan ukuran minimal size 3 ekor/kg keatas.

Sebagian industry makanan olahan asal ikan menggunakan bahan baku lele jumbo sebagai fillet lele (daging ikan lele tanpa tulang dan tanpa duri), lele fillet sangat digemari oleh konsumen karena kepraktisan, hygienitas tanpa perlu repot memotong sendiri ikan lele yang masih hidup dipasar. Fillet ikan lele banyak diproduksi perusahaan olahan berbahan baku ikan untuk di ekspor ke luar negeri dengan jumlah besar. Ikan lele dengan ukuran jumbo bisa dipanen dalam waktu sekitar 3-6 bulan tergantung permintaan konsumen terkait ukuran berat hidup ikan lele yang diukur secara random sampling. RPA Wahana Sejahtera Foods juga menyediakan ikan lele XL(Xtra Large) untuk kalangan komunitas pemancing ikan mania yang digunakan sebagai master dalam suatu perlombaan memancing ikan yang marak beberapa tahun ini.

Dengan jumlah kolam cukup banyak serta dukungan pakan alami dari ekses produksi RPA Wahana Sejahtera Foods, lele produksi kami siap melayani kebutuhan apapun usaha makanan anda yang berasal dari bahan baku lele.

Sampai saat ini  lele ukuran jumbo produksi RPA Wahana Sejahtera Foods beberapa diantaranya terserap oleh konsumen industry sebagai bahan baku lele fillet untuk pangsa pasar ekspor, konsumen kami di Jayapura juga telah memakai produk lele konsumsi untuk menunjang rumah makan di sana serta pemilik usaha pemancingan ikan juga menjadi pelanggan setia kami menggunakan lele ukuran jumbo sebagai ikan master pada kontes lomba pemancingan ikan.

Anda bisa mendapatkan lele dalam keadaan hidup ataupun sudah frozen bersih isi perut sama sirip ikan dalam bungkus karton isi 10 kg/karton.

Segera hubungi tim marketing RPA Wahana Sejahtera Foods untuk mendapatkan ikan lele dengan harga family. Fast Response Hubungi: Thoiron Ababil 085785779930.

Jombang, 27 Maret 2015

Zafri Aristiawan

081235414422

 Page 9 of 28  « First  ... « 7  8  9  10  11 » ...  Last »