AFCO INSIGHT Archives

PRODUKSI BONELESS PAHA

INSTRUKSI KERJA PRODUKSI BONELESS PAHA

2013-10-18 14.59.50

1.Operator menyiapkan talenan bersih pada meja  tempat proses boneless paha.

2.Operator menyiapkan keranjang kosong bersih.

3.Siapkan pisau tajam bersih dan pengasah untuk operator boneless.

4.Operator menyiapkan paha utuh.

5.Operator menyiapkan plastik packing ukuran 20 x 35 cm

6.Naikkan paha dalam keranjang keatas meja conveyor.

7.Operator boneless paha, menyayat daging paha menyusuri tulang mulai dari paha bawah ke paha atas.

8.Lepaskan daging paha bagian atas dengan memotong daging secara melintang pada bagian pergelangan paha, kemudian ujung pisau memotong daging menyusuri tulang sampai persendian paha bawah dan paha atas.

9.Lepaskan daging paha atas dengan memotong daging ujung paha atas menyusuri tulang sampai persendian paha bawah dan paha atas.

10.Lepaskan daging paha atas dan bawah dari tulang dengan cara memotong secara melintang didaerah persendian, tulang cartilago jangan terbawa pada daging.

11.Operator pengulitan melepaskan kulit dari daging Boneless  Paha dengan cara memegang daging paha atas dengan tangan kiri dan menarik kulit diujung tengah daging paha atas.

12.Pisahkan antara kulit yang bagus dengan yang tidak pada keranjang yang bersih.

13.Pisahkan antara Boneless Paha yang masih terdapat tulang dan memar kemudian oleh operator reject di bersihkan dari tulang dan memar, sehingga dihasilkan boneless paha yang sesuai dengan standar kualitas produksi.

14.Bila tidak ada permintaan kulit A atau BLP dalam bentuk fresh, maka produk tersebut di packing untuk di frozen menggunakan plastik bersih ukuran 20 x 35 cm, berat rata-rata 1,5 Kg per pack.

15.Timbang semua produk dan ekses nya dari hasil proses boneless paha di tempat penimbangan.

16.Jika telah selesai, sebelum meninggalkan tempat bersihkan dahulu daging-daging /triming yang masih tertinggal di atas meja.

17.Kumpulkan talenan kotor kedalam keranjang untuk dibersihkan

18.Operator mengumpulkan pisau yang telah dipakai untuk dibersihkan.

LEGALISASI ABORSI DOC

Dampak Legalisasi Aborsi DOC

 

Harga ayam broiler sudah sangat tinggi dipertengahan bulan agustus 2014 ini, kalau saya cermati,tren kenaikan ini mulai berjalan pada tanggal 8 Agustus 2014, sebelum tanggal tersebut harga ayam hidup peternak di Jawa Timur khusunya masih stabil bahkan cenderung turun di harga Rp 13000-14000/kg(Pinsar Indonesia) , selang tiga hari kemudian tiba-tiba harga ayam mengalami rebound kenaikan Rp 500-1000 setiap harinya sampai pada hari ini tembus di angka Rp 19000Kg.

Kenaikan harga ayam hidup ini merupakan kado manis hari ulang tahun kemerdekaan NKRI yang ke 69 bagi peternak karena harga jual sudah jauh diatas harga pokok produksi ayam dikisaran Rp 14500/Kg. Namun  sayangnya peternak ayam besarlah yang menikmati hasil kenaikan ayam hidup ini,

sedangkan peternak mandiri maupun peternak kecil kembali harus gigit jari, karena jadwal panen mereka lebih awal disaat harga ayam hidup murah. Sekarang harga ayam terlanjur naik, kenaikan ini dirasa cukup berat karena sudah diluar jangkauan kemampuan harga beli masyarakat luas.

Aborsi DOC

Kalau kita menengok kebelakang penyebab kelangkaan ayam hidup dan mahalnya ayam karkas adalah kebijakan pemerintah melalui Kemendag menelurkan keputusan untuk memangkas populasi Day Old Chicks/ aborsi DOC (DOC) sampai 20% pada yang dimulai pada minggu pertama bulan  puasa lalu dengan asumsi setelah hari raya idul fitri harga ayam akan terjun bebas seperti tahun sebelumnya, atas dasar itulah keputusan diambil. Harapan pemeritah melalui kemendag menjaga stabilisasi harga ayam agar tidak terjun bebas ternyata kebablasan.

Tingginya serapan pasar tenyata jomplang dengan kondisi stok ayam hidup yang sedikit bahkan cenderung banyak yang kosong terutama ayam hidup dengan berat 2Kg up, kalau toh pun ada harganya pun paling murah Rp 19000-20000/Kg dikandang ditambah ongkos transportasi Rp 500/kg dan biaya produksi pemotongan ayam, harga jual pedagang pun jatuh pada kisaran Rp 32000/Kg.  Harga yang terlampau mahal untuk masyarakat.

Disaat harga ayam mahal saat ini, Peternak mandiri dan peternak kecil sudah membaca situasi, secara naluri mereka ingin mengisi kandang ayam dengan harapan saat panen kelak, harga ayam hidup bagus, namun dengan dibatasinya populasi DOC yang oleh perusahaan penetasan ayam (Hutchery) di jual telur fertil untuk konsumsi atau telur yang sudah terlanjur menetas akan diaborsi sesuai peraturan perusahaan.

Peternak mandiri dan peternak kecil kelabakan juga mencari supplier DOC mereka kecewa tidak mendapatkan pasokan DOC sesuai kebutuhan kapasitas kandang mereka, kalau pun dapat DOC, DoC dapat jatah sedikit dengan harga Rp 4150/ekor merek cp(www.arboge.com/harga-doc-hari-ini/),

berbeda dengan peternak kemitraan besar yang bisa mengontrol DOC dan live bird itu sendiri, mereka medapatkan supply DOC lebih mudah dari perusahaan penetasaan  meskipun diakui ada pembatasan jatah pengambilan dibandingkan bulan sebelumnya.

Pasif

Dengan adanya aborsi DOC oleh Kemendag berarti negeri ini menjadi pemain pasif dalam percaturan produksi ayam broiler global menurut data yang dirilis oleh United States Department Of Agriculture(USDA) bulan April tahun 2014 menunjukkan bahwa Indonesia masuk rangking 11 besar produksi ayam broiler dengan jumlah 1,565 ton, masih kalah dengan Thailand 1,600 ton, Turki 1,810 ton, Argentina 2,080 ton, Meksiko 3,060 ton dan negara produsen terbesar pertama ayam broiler adalah USA 17,276 ton disusul China 12,700 ton (http://www.indexmundi.com/agriculture/?commodity=broiler-meat&graph=production)

dengan kebutuhan konsumsi global ayam broiler yang mencapai 83,453 ton(http://apps.fas.usda.gov/psdonline/circulars/livestock_poultry.pdf), sudah seharusnya

pemerintah melalui departemen Peternakan bisa memaksimalkan dan mengembangkan potensi peternakan ayam broiler secara komprehensif bukan statis pasif, terlebih lagi adanya kebijakan yang tidak sinkron di kementrian perdagangan dan kementrian peternakan perlu diluruskan.

Pemerintah mengurangi populasi DOC dalam negeri dengan alasan kekhawatiran overpopulasi ayam hidup yang mengakibatkan harga ayam terjun bebas merupakan keputusan emosional  dini. Bila dianalisa terbalik, maka seandainya kebijakan pemangkasan populasi DOC tersebut tidak dijalankan, secara tidak langsung bisa dikatakan Indonesia sudah swasembada daging ayam broiler,kalau memang demikian adanya, akan lebih baik lagi kalau pemerintah memfasilitasi export produk hasil ternak ayam broiler ini sehingga kekhawatiran overproduksi oleh perusahaan perunggasan nasional bisa teratasi dan supply kebutuhan pasar domestik bisa stabil harganya.

Industri Makanan Olahan

Kekhawatiran akan produksi hasil ternak ayam broiler tidak akan muncul jikalau stake holder terkait memberikan kemudahan dan fasilitas kepada produsen ayam broiler untuk memaksimalkan pasar dalam negeri khususnya industri makanan olahan. Demand industri makanan olahan daging ayam sangat tinggi, bahkan untuk daging ayam jenis Mechanically Deboned Meat(MDM) industri makanan olahan di indonesia masih menggantungkan kuota impor sebesar 300 ton lebih tiap bulannya, selain kebutuhan MDM ayam, raw material daging ayam fillet pun sangat besar.

Apabila optimalisasi pasar dalam negeri dimaksimalkan dengan baik, maka serapan produksi hasil ternak ayam broiler akan terkuras habis bahkan kurang untuk konsumsi pasar tradisional, pasar moderen dan industri makanan olahan.

Akhirnya, pemangkasan jumlah populasi DOC sesuai arahan pemerintah melalui Kemendag tidak efektif bahkan fatal akibatnya dimasyarakat, harapan masyarakat mendapatkan harga ayam yang relatif terjangkau hanyalah angan-angan semata karena tingginya harga daging ayam.

Semoga para stake holder bisa mereviu kembali kebijakan yang berdampak sistemik ini agar prosentase perhitungan kebijakan pemangkasan DOC bisa dihitung lebih cermat sesuai kebutuhan pasar agar harapan pemerintah untuk menstabilkan harga ayam dipasaran tidak salah kalkulasi dan benar-benar dirasakan  manfaat positifnya bagi masyarakat peternakan, dan masyarakat pecinta daging ayam pada umumnya.

Wallahu a’lam bishawab

Jombang 22 Agustus 2014

Zafri Aristiawan

Penikmat Daging Ayam

081235414422

Bahan pangan mentah dapat menjadi rusak atau busuk karena beberapa penyebab, tetapi yang paling utama adalah kerusakan atau kebusukan karena mikroba. Mutu dan keamanan suatu produk pangan sangat tergantung pada mutu dan keamanan bahan mentahnya. Oleh karena itu untuk dapat menghasilkan produk pangan yang bermutu dan aman dikonsumsi, bahan mentah harus dipilih terlebih dahulu.
Bagaimana memilih bahan mentah pangan yang bermutu baik?
• Pilih bahan pangan mentah yang tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan atau kebusukan.
Bahan pangan mentah yang sudah rusak atau busuk beresiko untuk mengandung bahaya bagi kesehatan manusia.
• Bahan pangan mentah dapat menjadi rusak atau busuk karena beberapa penyebab, tetapi yang paling utama adalah kerusakan atau kebusukan karena mikroba.
Tanda-tanda kerusakan pangan:

Daging dan produk olahannya
Daging mudah sekali rusak karena mikroba. Kerusakan pada daging dapat dikenal karena tanda-tanda sebagai berikut:
• adanya perubahan bau menjadi tengik atau bau busuk
• terbentuknya lendir
• adanya perubahan warna
• adanya perubahan rasa menjadi asam
• tumbuhnya kapang pada bahan/dendeng kering
Ikan dan produk olahannya Read the rest of this entry

 Page 8 of 12  « First  ... « 6  7  8  9  10 » ...  Last »