AFCO INSIGHT Archives

MOCH. ZAFRI ARISTIAWAN

Tepat pukul 00.00 tanggal 28 Maret 2015 Pemerintah melalui Kementerian ESDM menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar maupun premium sebesar Rp 500 per liter. Harga premium menjadi Rp 7.300 per liter, sementara harga solar menjadi Rp 6.900 per liter. Alasan Pemerintah menaikkan harga BBM karena menyesuaikan naiknya harga keekonomian minyak. Pada hari ini pula pukul 00.00  atau sebelumnya , harga ayam justru cenderung turun jauh dari harga keekonomian ayam broiler di angka Rp 14,500-15,000 per kilogram, realisasi harga ayam hidup pada jadwal penutupan  harga pengambilan tanggal 27 Maret 2015, rata-rata harga ayam broiler hidup turun Rp 500 per kilogram, seperti data yang diperoleh penulis dari asosiasi Pinsar yang merilis realisasi harga ayam broiler hidup (live bird) hari ini menunjukkan di daerah Jawa Tengah secara average harga live bird dikisaran Rp 11.000 per kilogram, di daerah Jawa Timur harga live birds dikisaran Rp 12.000 per kilogram sedangkan harga ayam hidup di Jabodetabek dikisaran Rp 13.000-14.000 per kilogram.

Sangat kontradiksi memang disaat BBM naik lazimnya masyarakat mengikuti penyesuaian harga kebutuhan pokok termasuk daging yang mestinya mengalami kenaikan juga, setelah diprediksi naik karena ada kabar Pemerintah memimpin pengurangan produksi 20% DOC(Day Old Chick/Anak Ayam Umur Sehari) mulai hari Sabtu, 28 februari 2015(sumber: Pinsar Indonesia) tepat satu bulan lalu ternyata tak bertuah hingga hari ini, kalau di break down kebelakang, semua peternak berfikir bahwa kalau memang ada pengurangan produksi DOC yang menjadi kesepakatan ditingkat nasioal, maka hari ini mestinya harga ayam broiler naik, apa hanya karena mindset kebanyakan peternak latah dengan isu tersebut lalu berbondong-bondong melakukan  chick-in kedalam kandang sebanyak-banyaknya sehingga saat panen hari ini tiba, jadwal panen produksi ayam broiler hidup bersamaan sehingga terjadi over produksi dan akhirnya mekanisme pasarlah yang berbicara, menawar harga ayam hidup semurah-murahnya.

Psikologis pembeli ayam broiler hidup dikandang tentu sudah mendapatkan informasi realisasi harga ayam hidup terkini, sehingga dengan mudah untuk mengambil decision untuk membeli harga ayam hidup didaerah yang harga penjualannya termurah di Indonesia, meskipun jaraknya cukup jauhpun pasti akan dicari dan dibeli tanpa menghiraukan resiko membengkaknya ongkos mahalnya transportasi akibat kenaikan harga BBM, juga adanya resiko penyusutan ayam hidup karena selama diperjalanan ayam tersebut mengeluarkan kotoran berjumlah banyak serta resiko tingginya kematian ayam saat proses transportasi perpindahan ayam dari habitat nyamannya hunian kandang close house menuju tempat tujuan akhir ayam hidup diproses oleh pembeli dapat dipastikan ayam mengalami stress berat karena belum bisa menyesuaikan kondisi ayam yang berdesak-desakan di keranjang pada armada pembawa ayam hidup hiingga akhirnya karena terjepit, terinjak, stress maupun penyakit berujung pada kematian.

Disparitas Harga Ayam Hidup

Adanya disparitas harga ayam hidup yang tidak seragam dan sudah tidak lagi ada pada nilai keekonomiannya ini menimbulkan masalah baru yaitu mutasi besar-besaran ayam hidup secara buatan, semisal harga ayam hidup di Jawa Tengah sangat murah, hal terebut mendorong pembeli dari daerah Jabodetabek mengambil serta membeli ayam hidup secara langsung dari daerah Jawa Tengah dengan mekanisme kesepakatan penentuan nilai nominal harga ayam ditimbang ulang ditempat tujuan, imbasnya para peternak di daerah Jabodetabek yang berharap hasil panen(ex-farm) bisa terjual harga tinggi terpaksa harus gigit jari karena pembeli  tidak jadi membeli ayam hidup dikandang peternak bersangkutan terlebih pembeli pasti membanding-bandingkan harga pembelian ayam hidup yang didapat didaerah lain harganya jauh lebih murah sehingga berdampak sistemik bagi peternak lain di daerah Jabodetabek karena sudah di K.O duluan secara psikologis pada harga jual ayam hidup, kalau problem ini, saya yakin Pemerintah dalam hal ini dinas peternakan sudah mengetahui masalah ini namun terlihat melakukan pembiaran secara nyata.

Kalau harga ayam hidup dibiarkan terlalu murah jauh dibawah harga pokok produksi seperti ini, secara alamiah maupun secara terencanakan para peternak kecil di Indonesia akan terseleksi alam by design dalam hitungan siklus satu atau dua kali panen. Saat peternak kecil sudah pada bagkrut semua giliran peternak besar yang memiliki integrated supply chain menjadi penguasa industri peternakan nasional tanpa memberikan ruang gerak pada peternak baru.

Jalan Pintas Pangkas DOC

Kabar berita bahwa Pemerintah memimpin pengurangan produksi 20% DOC mulai hari Sabtu, 28 februari 2015 bisa jadi meninabobokkan peternak, karena sungguh naïf kalau aturan itu hanya sebatas pada pemotongan produksi DOC dengan harapan agar jumlah populasi ayam hidup kedepannya bisa dikontrol dan dibatasi jumlahnya sehingga saat panen tiba harapannya harga ayam bisa terangkat naik cukup banyak. Wahai Pemerintah, ingatlah bahwa Negara Indonesia bukan hanya di Jawa yang merupakan sentra produksi ayam hidup terbesar di Negeri ini, masih ada wilayah NKRI lain yang minus peternakan ayam sangat membutuhkan pasokan daging ayam cukup banyak dengan harga terjangkau tentunya. Dengan adanya pembatasan jumlah DOC jelas merupakan tanda ketidak berdayaan Pemerintah dalam memberikan ruang gerak dan stimulus bagi peternak ayam di Indonesia, analoginya kalau memang populasi ayam hidup di Jawa sudah dirasa overproduksi dan khawatir kalau terus dibiarkan selama 30-40 hari kedepan setelah DOC masuk kandang terjadi panen massal dan berpengaruh pada turunnya harga ayam, tolong peternak dibantu regulasi kemudahan distribusi ke pelosok nusantara yang minus adanya daging ayam atau diberikan kemudahan perizinan untuk proses ekspor hasil ternak kalau dirasa produksi daging ayam dalam negeri sudah swasembada.

Minggu lalu saya bertemu dengan Bapak Lucky, penduduk dari daerah Maluku Barat Daya yang menceritakan betapa mahalnya harga daging ayam serta kebutuhan bahan pokok lain, Pak Lucky menuturkan “bahwa harga daging ayam Rp 70000 per kilogram sedangkan harga BBM di tingkat pengecer Rp 50000 per liter”. Bapak Lutfi di daerah Timika menuturkan “harga daging ayam di tingkat pengecer Rp 40000 per kilogram”, hal senada juga sampaikan oleh Bapak Rifky di Manado, “harga daging ayam di Manado hari ini ditingkat pedagang kecil Rp 38000 per kilogram”. Bisa dibayangkan betapa lebih mahal lagi apabila kebijakan Pemerintah melakukan upaya paksa jalan pintas dengan melakukan pemangkasan produksi DOC secara nasional, bisa dipastikan harga ayam kedepan jauh lebih mahal di daerah Jawa apalagi di daerah di luar pulau Jawa. Hal ini tentunya menguntungkan bagi peternak besar dan peternak kemitraan karena terbatasnya jumlah DOC sehingga jatah DOC dibagikan secara tebatas pada peternak besar dengan sistem kemitraan, sedangkan peternak kecil dengan sistem mandiri biasanya merasa kesulitan mendapatkan DOC, kalaupun dapat tentu harganya mahal.

Industri penetasan ayam (hatchery) kedepan bisa dikatakan kena pukulan telak karena semestinya secara korporasi diwajibkan meningkatkan kapasitas produksi DOC semaksimal mungkin, namun demi kebaikan dan kesepakatan bersama maka industry penetasan seharusnya patuh dengan intruksi dari Pemerintah tapa adanya insentif jelas buat mereka, bisa saja terjadi kesenjangan antara industry penetasan telur (hatchery) dan industry pakan ternak karena selama ini industry pakan ternak tidak tersentuh (untouchable) oleh Pemerintah, industry pakan ternak juga berperan dominan dengan populasi ayam broiler di Nusantara, beberapa industry pakan ternak besar terintegrasi dari hulu ke hilir bidang peternakan, mulai pabrik pakan ternak, budidaya indukan grand parent stock ayam broiler, penetasan ayam, budidaya ayam broiler, rumah pemotongan ayam, hingga further processing berupa pabrik makanan olahan.

Saatnya Ekspor Interisland dan Internasional

Bagi industry pakan ternak integrated seperti gambaran diatas merupakan suatu kerugian besar apabila mengikuti anjuran Pemerintah untuk memangkas produksi DOC secara ekstrim karena secara otomatis serapan pakan ternak bakal turun drastis terkecuali produksi pakan tetap berjalan normal produksi DOC berjalan normal pula untuk suplai dikalangan internal. Industry pakan ternak memiliki kepentingan cukup besar dengan menyikapi adanya instruksi pemangkasan produksi DOC secara nasional, karena kontrak import pembelian bahan baku pakan ternak terlanjur diteken, stok produksi pakan yang berjumlah ratusan ton sudah tersusun di gudang dan masa kadaluarsa pakan ternak sudah mendekat maka jalan satu-satunya adalah menggenjot produksi DOC sebanyak mungkin, semaksimal mungkin agar alur mata rantai produksi pakan ternak tidak jalan di tempat.

Menurut data United States Department Of Agriculture tahun 2014, Negara Indonesia memproduksi daging ayam broiler sejumlah 1.565 metric ton, sedangkan total konsumsi domestik penduduk Indonesia terhadap daging ayam broiler di tahun 2014 sejumlah 1.565 metric ton (http://www.fas.usda.gov/data/livestock-and-poultry-world-markets-and-trade) . Artinya jumlah produksi ayam broiler dalam negeri sudah terserap habis oleh kebutuhan konsumsi domestic dalam negeri.  Sedangkan proyeksi produksi ayam broiler Indonesia sampai bulan Oktober 2015 mendatang sejumlah 1.625 metric ton dan proyeksi serapan pasar domestik sampai bulan Oktober 2015 mendatang  equivalen sebesar 1.625 metric ton(apps.fas.usda.gov/psdonline/circulars/livestock_poultry.PDF).

Apabila Pemerintah mengklaim bahwa produksi ayam broiler di Indonesia berlebih, sudah selayaknya diberikan peluang untuk ekspor ke luar negeri karena menurut data USDA bulan Oktober 2014 yang lalu, Indonesia masuk dalam rangking 10 dunia produsen ayam broiler. Negara Amerika Serikat menjadi Negara peringkat pertama dunia produsen ayam broiler dengan jumlah 17.254 metric ton, China: 13.000 metric ton, Brazil: 12.680 metric ton, Uni Eropa: 10.070 metric ton, India: 3.725 metric ton, Rusia: 3.200 metric ton, Mexico: 3.060 metric ton, Argentina: 2.100 metric ton, Turki: 1.755 metric ton, Thailand: 1.570 metric ton, Indonesia: 1.565 metric ton.

Melihat kondisi produksi daging ayam broiler yang impas dengan kebutuhan konsumsi domestik, Negara Indonesia selayaknya meningkatkan produksi semaksimal mungkin untuk kran ekspor, bukannya malah memotong jumlah produksi. Sudah saatnya Pemerintah mendorong serta memberikan insentif bagi perusahaan unggas yang terintegrasi serta peternak lokal mandiri untuk melaksanakan ekspor daging ayam keluar negeri serta memberikan kemudahan sarana prasarana pendukung  jalur distribusi daging ayam ke penjuru negeri sebagai antisipasi adanya overproduksi daging ayam nasional serta lebih mendekatkan daging ayam ke daerah-daerah diluar pulau jawa secara dinamis dan berkelanjutan, Semoga!

Jombang, 28 Maret 2015

 

*Moch. Zafri Aristiawan

Penikmat Daging Unggas

www.afco.co.id

 

AYAM BROILER ANJLOK, PETERNAK MENJERIT*

ILUSTRASI PETERNAKAN AYAM BROILER

ILUSTRASI PETERNAK AYAM BROILER

Daging Ayam broiler merupakan salah satu kebutuhan bahan pokok bagi masyarakat, peternak ayam broiler sangat concern dengan mata rantai penyediaan daging ayam broiler berkualitas dan terjangkau.

Peternak ayam broiler sangat berharap usaha ternaknya bisa meraih keuntungan sebagai jasa atas penyediaan daging ayam sehat berkualitas bagi masyarakat.

Harapan meraih keuntungan bagi peternak ayam broiler diawal bulan maret 2015 ini pupus sudah, tren penurunan harga ayam broiler semakin parah bahkan sampai menyentuh angka Rp 9000/Kg di beberapa daerah Sumatra, Rp 10000/Kg di beberapa daerah Jawa Tengah dan Rp 11000 di beberapa daerah di Jawa Timur(Pinsar 3 Maret 2015). Apabila ditarik kebelakang, para peternak ayam broiler yang tidak beruntung saat panen ayam diawal bulan maret ini, pada 35 hari lalu mereka rela membeli anak ayam umur sehari(DOC) dari industri penetasan telur ayam(Hutchery) dikisaran Rp 5500-6000/ekor, harga yang cukup mahal sebenarnya karena menurut informasi dari teman penulis yang bekerja di industri penetasan ayam di daerah Kayoman-Malang menyebutkan bahwa “nilai harga pokok produksi(HPP) satu butir telur sampai menetas sebesar Rp 2300/ekor, namun apabila jumlah produksi penetasan bisa dimaksimalkan lebih banyak lagi maka HPP lebih murah lagi”.

Kiranya saat 35 hari lalu disaat harga ayam hidup mencapai harga puncak di Rp 18000/Kg di daerah Jawa Timur dan Rp 22000/Kg di daerah Jabodetabek, mainframe semua peternak di seluruh wilayah Indonesia sama “ segera isi kandang secepat dan sebanyak-banyaknya mumpung harga bagus”, momen ini dibaca dengan cukup baik oleh industri penetasan telur ayam untuk produksi lebih banyak lagi dan rilis harga lebih mahal, meskipun harga lebih mahal toh peternak pasti akan beli juga akhirnya.

Beberapa kali Pinsar sebagai salah satu induk asosiasi peternak di Indonesia menghimbau kepada para peternak untuk lebih bijak dan waspada dengan harga DOC yang diluar kewajaran, apa nyana himbauan tersebut tidak di perhatikan dengan baik karena sebagian besar peternak sudah tutup mata dengan satu keyakinan dan satu harapan bahwa disaat panen tiba, harga mahal sehingga harga pembelian DOC meskipun dirasa agak mahal bisa tertebus.

Saat panen tiba, fakta berkata lain dari harapan, harga ayam di awal bulan maret 2015 ini terjun bebas, peternak-pun sudah pasti banyak mendapat vonis “Merugi” dari mekanisme pasar saat ini, Asosiasi peternak sudah berulang kali mengadakan pertemuan secara rutin dengan para peternak di wilayah masing-masing guna membahas anjloknya harga ayam hidup agar segera terangkat lebih tinggi dari HPP ayam broiler karena saat ini realisasi harga pembelian ayam broiler sudah terlampau jauh dibawah HPP.

Semua jurus sudah dilakukan dan dijalankan oleh para peternak sesuai dengan kesepakatan bersama saat adanya pertemuan rutin yang dijalankan asosiasi peternak, semua peternak kompak untuk menaikkan secara bertahap harga pembelian ayam hidup di pagi hari sesuai arahan posko, segelintir konsumen bisa memahami kondisi peternak dengan jalan membeli ayam broiler hidup sesuai harga posko namun para spekulan lebih banyak tidak cocok dengan harga ayam broiler yang ditawarkan di Posko sehingga tawaran harga murah pun dilancarkan.

Lemahnya bargaining position peternak , ditambah lagi dengan menurunnya daya beli maasyarakat akibat naiknya beberapa komponen bahan pokok dan BBM membuat posisi peternak sangat dilematis, peternak sudah tahu kalau harga jual saat ini jual rugi karena harga sudah jauh dibawah HPP apa daya peternak akhirnya jual rugi ayam broiler yang telah dirawatnya kurang lebih 35 hari lalu, arahan posko dirasa tidak bertuah lagi pada bulan maret ini, hasil kesepakatan tidak untuk disepakati karena sudah terlalu merugi, peternak mau mengikuti arahan harga posko namun terjadi penolakan dipasar karena harga, peternak mau menahan untuk tidak menjual rugi ayam broiler hidup dikandang tidak ada kepastian esok atau lusa harga bisa mahal sedangkan ayam dikandang sudah berbobot 2,3 Kg mau tidak mau dengan terpaksa peternakpun melepas hasil ternaknya berharga terlalu murah.

Saat harga anjlok seperti ini, peternak hanya bisa meminta pertolongan kepada Tuhan karena peran Pemerintah kurang maksimal untuk membuat policy(baca:kebijakan) pro peternak, berkali-kali peternak unjuk rasa di Istana Negara dan Kementrian Pertanian dalam rangka menyampaikan aspirasi dan meminta dukungan kepastian iklim investasi dibidang peternakan serta pangan rakyat, syukur Alhamdulillah, efek demonstrasi peternak saat itu sangat efektif mengkatrol harga ayam hidup meskipun seringkali bertahan dikisaran satu sampai dua minggu efeknya, selepas itu harga turun lagi, akankah peternak harus wajib demonstrasi setiap minggu demi harga ayam broiler yang lebih baik? Atau memang ada something wrong dalam tata niaga perunggasan?.

Liberalisasi sektor peternakan terkesan nyata adanya karena peternak dihadapkan langsung dengan mekanisme pasar tanpa adanya insentif dan kebijakan menguntungkan yang dibuat pemerintah bagi peternak. Secercah harapan muncul saat penulis membaca broadcast BBM PINSAR dari teman baik peternak dari Bandung sebagai berikut:

Slmt pagi Pak,

Berita gembira, akhirnya Pemerintah memimpin pengurangan produksi 20 % DOC, mulai Sabtu, 28 Feb,

Poin diskusi,
Fakta:
1. stock cold storage sedikit. Bagi yg punya cold storage, saat nya utk segera potong dan simpan karkas murah.

2. Kelebihan pasokan akibat Efek Banjir tidaklah banyak karena saat itu supply DOC juga sedikit (saat chick in DOC mahal sampai 5000).

3. Saran harga ayam besar Jabotabek :
08-10: 19000
10-12: 18600
12-14:17000
14-16:16000
16-18: 15000
18-20: 14500

Kesimpulan:
Supply pasti akan segera berkurang drastis. Dukungan ikut menaikan harga jual ayam hidup hari ini dan seterusnya ke atas harga HPP Peternak dilakukan bersama.

Mari sukseskan program Pemerintah dalam memperbaiki nasib Peternak.
Dukungan Bapak dan team sangat berharga. Terima kasih, salam PINSAR INDONESIA
(PINSAR milik&untuk semua)

Berita dari PINSAR diatas merupakan kabar gembira bagi peternak yang kompak mengikuti arahan posko di wilayah masing-masing. Penulis sangat apresiasi terhadap peternak di Wilayah Jawa Timur yang nyatanya seringkali menunjukkan kekompakan dan soliditas dalam penentuan harga jual ayam hidup.

Asosiasi peternak memiliki pedoman serta rambu-rambu keselamatan dalam proses budidaya ayam broiler bagi semua anggotanya, apabila anggota kompak mengikuti pedoman yang ada maka diharapkan peternak bisa terhindar dari kerugian, kesepakatan yang telah disepakati bersama di setiap posko harus dijalankan dengan baik demi keberlangsungan serta kesuksesan peternak Indonesia.

Jayalah Peternak, Jayalah Indonesia.

Jombang, 5 Maret 2015

Zafri Aristiawan
Penikmat Daging Unggas

*tulisan diatas merupakan opini pribadi.

Pada bulan januari tahun-tahun sebelumnya merupakan bulan menurunnya serapan pasar daging ayam broiler, kebanyakan peternak ayam broiler terutama peternak mandiri menahan diri untuk tidak mengisi ayam(chick in) di kandang karena momok siklus tahunan jatuh dibulan januari dan februari mengacu pada tahun-tahun sebelumnya harga ayam hidup saat panen tidak seperti yang diharapkan para peternak karena cenderung turun, sudah banyak terbesit pada para peternak bahwa awal tahun bulan januari-februari merupakan bulan “wingit”, bulan angker buat pemelihara ayam broiler.

Dengan kondisi curah hujan tinggi merupakan tantangan dan rintangan bagi peternak ayam broiler, karena mafhum bagi peternak saat musim hujan penyakit pada ayam broiler berdatangan secara rombongan tanpa diundang, setidaknya ada enam penyakit ayam saat musim penghujan antara lain: penyakit ayam ngorok(CRD), aspergilosis, ND, IB, Koksidiosis dan collibacilasis.

Bagi peternak ulung, adanya penyakit ayam saat musim penghujan merupakan ujian tersendiri karena peternak dituntut extra dalam perawatan, vaksinasi dan sanitasi kandang. Curah hujan tinggi seringkali meyebabkan perubahan suhu yang drastis pada kandang terbuka, akibatnya ayam mudah stress dan dalam kondisi stress kekebalan tubuh ayam terhadap penyakit cenderung menurun, dalam kondisi demikian penyakit akan mudah masuk. Kalau ayam sudah dikatakan stress berat, upaya peternak untuk melakukan vaksinasi tidak berjalan maksimal karena sistem penghasil kekebalan pada tubuh ayam broiler keok duluan.

Banyaknya ayam stress dan serangan penyakit seringkali berujung pada kematian serta menularkan kepada ayam lainnya apabila tidak cepat ditangani. Musim penghujan juga mempengaruhi kualitas pakan ayam broiler, karena tingkat kelembaban yang tinggi mengakibatkan pakan ayam broiler bisa ditumbuhi oleh jamur, tumbuhnya jamur pada pakan ayam broiler menyebabkan pakan terkontaminasi racun bawaan jamur tersebut, apabila pakan berjamur itu diberikan pada ayam broiler maka sangat dimungkinkan berakibat terjadinya kekerdilan.

Fluktuasi suhu lingkungan kandang menjadi ancaman produktivitas ayam, efek penurunan produktivitas ayam berbuah ayam kerdil serta ayam mengalami perlambatan pertumbuhan(Slow Growth).

Menurut Tabbu(2000)”Slow Growth merupakan kondisi dimana sekelompok ayam(umumnya terjadi 5-40% dari populasi) mengalami penurunan laju pertumbuhan pada kisaran umur 4-14 hari. Awalnya pertumbuhan ayam tertekan, kemudian kembai normal tetapi lebih kecil dari yang normal.

Akibat dari gangguan penyerapan zat nutrisi ataupun proses pencernaan pakan sehingga tingkat keseragamannya rendah, angka afkir tinggi, konversi pakan jelek dan produksi menurun drastis”.
Kondisi slow growth pada bulan Januari sampai bulan februari 2015 sekarang ini menjadi perbincangan hangat para analis dunia perunggasan, ayam broiler semestinya dalam jangka waktu pemeliharaan 35 hari bisa mencapai bobot 2 Kg/Ekor dengan FCR(Feed Convertion Ratio) 1,6. Namun karena adanya slow growth waktu pemeliharaan bisa molor sampai 40-45 hari baru mencapai bobot 2 Kg/Ekor.

Kondisi tersebut memunculkan ketidakstabilan dalam keberlangsungan mata rantai jadwal panen ayam broiler, ditambah lagi dengan tingginya angka kematian ayam dikandang akibat penyakit membuat harga ayam broiler pada Bulan Januari sampai Pertengahan Februari 2015 saat ini diluar ekspektasi semua peternak.

Pada bulan januari 2015 harga ayam hidup di Jabodetabek mencapai Rp 19200-20000/Kg(Pinsar:2015), harga sempat turun dipertengahan bulan Januari karena serapan pasar Ibu Kota menurun akibat banjir, namun setelah banjir surut, permintaan pasar sangat tinggi akan tetapi stok ayam siap panen dikandang jumlahnya terbatas, secara otomatis harga ayam broiler bisa terangkat maksimal para peternakpun bersuka ria karena mendapat keuntungan pengganti modal pemulihan kerugian dibulan November-Desember 2014 saat harga ayam terlalu murah.Kabar baiknya sampai pada tanggal 9 Februari 2015, Harga ayam masih di level puncak terutama daerah Jawa Timur. Semakin meluasnya area banjir Ibu Kota berdampak pada mulai turunnya harga ayam hidup baik itu Di sekitar Jabodetabek, Lampung, Bandung, Cirebon, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Menurut Informasi dari Bpk Jamal Peternak ayam broiler di daerah Magetan Jawa Timur, “hari ini harga ayam broiler dilepas diharga Rp 14600/Kg dan asumsi satu minggu kedepan mengalami tren penurunan”. Terlepas dari analisa Bpk Jamal bahwa banjir di Ibu Kota dan Slow Growth berdampak sistemik bagi dunia perunggasan nasional secara masif, penurunan harga ayam sudah didepan mata. Apakah penurunan harga ayam ini hanya sesaat karena efek psikologis pasar akibat banjir?mungkinkah setelah banjir surut harga ayam broiler mengalami rebound seperti yang terjadi pada bulan Januari 2015 lalu? Apakah efek Slow Growth sudah berahir dimana ayam yang mengalami perlambatan pertumbuhan tersebut panen secara bersamaan di pertengahan bulan februari? yang jelas fakta dilapangan bahwa, ayam broiler besar dikandang boleh dikatakan tidak terlalu banyak, sedangkan ayam broiler kecil banyak berkutat meghadapi masalah penyakit.

Semoga bulan Januari dan Februari ini menjadi akhir dari sebutan bulan kesialan bagi peternak, karena sesungguhnya menjadikan bulan Januari dan Februari sebagai tersangka atas kasus turunnya harga ayam broiler merupakan langkah “slow growth” pola pikir untuk menghadapi relitas kekinian.

Jombang, 16  Februari 2015

 

Zafri Aristiawan

 Page 5 of 12  « First  ... « 3  4  5  6  7 » ...  Last »