Author Archive

LEGALISASI ABORSI DOC

Dampak Legalisasi Aborsi DOC

 

Harga ayam broiler sudah sangat tinggi dipertengahan bulan agustus 2014 ini, kalau saya cermati,tren kenaikan ini mulai berjalan pada tanggal 8 Agustus 2014, sebelum tanggal tersebut harga ayam hidup peternak di Jawa Timur khusunya masih stabil bahkan cenderung turun di harga Rp 13000-14000/kg(Pinsar Indonesia) , selang tiga hari kemudian tiba-tiba harga ayam mengalami rebound kenaikan Rp 500-1000 setiap harinya sampai pada hari ini tembus di angka Rp 19000Kg.

Kenaikan harga ayam hidup ini merupakan kado manis hari ulang tahun kemerdekaan NKRI yang ke 69 bagi peternak karena harga jual sudah jauh diatas harga pokok produksi ayam dikisaran Rp 14500/Kg. Namun  sayangnya peternak ayam besarlah yang menikmati hasil kenaikan ayam hidup ini,

sedangkan peternak mandiri maupun peternak kecil kembali harus gigit jari, karena jadwal panen mereka lebih awal disaat harga ayam hidup murah. Sekarang harga ayam terlanjur naik, kenaikan ini dirasa cukup berat karena sudah diluar jangkauan kemampuan harga beli masyarakat luas.

Aborsi DOC

Kalau kita menengok kebelakang penyebab kelangkaan ayam hidup dan mahalnya ayam karkas adalah kebijakan pemerintah melalui Kemendag menelurkan keputusan untuk memangkas populasi Day Old Chicks/ aborsi DOC (DOC) sampai 20% pada yang dimulai pada minggu pertama bulan  puasa lalu dengan asumsi setelah hari raya idul fitri harga ayam akan terjun bebas seperti tahun sebelumnya, atas dasar itulah keputusan diambil. Harapan pemeritah melalui kemendag menjaga stabilisasi harga ayam agar tidak terjun bebas ternyata kebablasan.

Tingginya serapan pasar tenyata jomplang dengan kondisi stok ayam hidup yang sedikit bahkan cenderung banyak yang kosong terutama ayam hidup dengan berat 2Kg up, kalau toh pun ada harganya pun paling murah Rp 19000-20000/Kg dikandang ditambah ongkos transportasi Rp 500/kg dan biaya produksi pemotongan ayam, harga jual pedagang pun jatuh pada kisaran Rp 32000/Kg.  Harga yang terlampau mahal untuk masyarakat.

Disaat harga ayam mahal saat ini, Peternak mandiri dan peternak kecil sudah membaca situasi, secara naluri mereka ingin mengisi kandang ayam dengan harapan saat panen kelak, harga ayam hidup bagus, namun dengan dibatasinya populasi DOC yang oleh perusahaan penetasan ayam (Hutchery) di jual telur fertil untuk konsumsi atau telur yang sudah terlanjur menetas akan diaborsi sesuai peraturan perusahaan.

Peternak mandiri dan peternak kecil kelabakan juga mencari supplier DOC mereka kecewa tidak mendapatkan pasokan DOC sesuai kebutuhan kapasitas kandang mereka, kalau pun dapat DOC, DoC dapat jatah sedikit dengan harga Rp 4150/ekor merek cp(www.arboge.com/harga-doc-hari-ini/),

berbeda dengan peternak kemitraan besar yang bisa mengontrol DOC dan live bird itu sendiri, mereka medapatkan supply DOC lebih mudah dari perusahaan penetasaan  meskipun diakui ada pembatasan jatah pengambilan dibandingkan bulan sebelumnya.

Pasif

Dengan adanya aborsi DOC oleh Kemendag berarti negeri ini menjadi pemain pasif dalam percaturan produksi ayam broiler global menurut data yang dirilis oleh United States Department Of Agriculture(USDA) bulan April tahun 2014 menunjukkan bahwa Indonesia masuk rangking 11 besar produksi ayam broiler dengan jumlah 1,565 ton, masih kalah dengan Thailand 1,600 ton, Turki 1,810 ton, Argentina 2,080 ton, Meksiko 3,060 ton dan negara produsen terbesar pertama ayam broiler adalah USA 17,276 ton disusul China 12,700 ton (http://www.indexmundi.com/agriculture/?commodity=broiler-meat&graph=production)

dengan kebutuhan konsumsi global ayam broiler yang mencapai 83,453 ton(http://apps.fas.usda.gov/psdonline/circulars/livestock_poultry.pdf), sudah seharusnya

pemerintah melalui departemen Peternakan bisa memaksimalkan dan mengembangkan potensi peternakan ayam broiler secara komprehensif bukan statis pasif, terlebih lagi adanya kebijakan yang tidak sinkron di kementrian perdagangan dan kementrian peternakan perlu diluruskan.

Pemerintah mengurangi populasi DOC dalam negeri dengan alasan kekhawatiran overpopulasi ayam hidup yang mengakibatkan harga ayam terjun bebas merupakan keputusan emosional  dini. Bila dianalisa terbalik, maka seandainya kebijakan pemangkasan populasi DOC tersebut tidak dijalankan, secara tidak langsung bisa dikatakan Indonesia sudah swasembada daging ayam broiler,kalau memang demikian adanya, akan lebih baik lagi kalau pemerintah memfasilitasi export produk hasil ternak ayam broiler ini sehingga kekhawatiran overproduksi oleh perusahaan perunggasan nasional bisa teratasi dan supply kebutuhan pasar domestik bisa stabil harganya.

Industri Makanan Olahan

Kekhawatiran akan produksi hasil ternak ayam broiler tidak akan muncul jikalau stake holder terkait memberikan kemudahan dan fasilitas kepada produsen ayam broiler untuk memaksimalkan pasar dalam negeri khususnya industri makanan olahan. Demand industri makanan olahan daging ayam sangat tinggi, bahkan untuk daging ayam jenis Mechanically Deboned Meat(MDM) industri makanan olahan di indonesia masih menggantungkan kuota impor sebesar 300 ton lebih tiap bulannya, selain kebutuhan MDM ayam, raw material daging ayam fillet pun sangat besar.

Apabila optimalisasi pasar dalam negeri dimaksimalkan dengan baik, maka serapan produksi hasil ternak ayam broiler akan terkuras habis bahkan kurang untuk konsumsi pasar tradisional, pasar moderen dan industri makanan olahan.

Akhirnya, pemangkasan jumlah populasi DOC sesuai arahan pemerintah melalui Kemendag tidak efektif bahkan fatal akibatnya dimasyarakat, harapan masyarakat mendapatkan harga ayam yang relatif terjangkau hanyalah angan-angan semata karena tingginya harga daging ayam.

Semoga para stake holder bisa mereviu kembali kebijakan yang berdampak sistemik ini agar prosentase perhitungan kebijakan pemangkasan DOC bisa dihitung lebih cermat sesuai kebutuhan pasar agar harapan pemerintah untuk menstabilkan harga ayam dipasaran tidak salah kalkulasi dan benar-benar dirasakan  manfaat positifnya bagi masyarakat peternakan, dan masyarakat pecinta daging ayam pada umumnya.

Wallahu a’lam bishawab

Jombang 22 Agustus 2014

Zafri Aristiawan

Penikmat Daging Ayam

081235414422

KERONGKONGAN AYAM

Kerongkongan Ayam

Kerongkongan Ayam

Produksi ayam fillet berupa fillet dada maupun paha mempunyai sampingan produk berupa kerongkongan ayam, kulit ayam, sayap ayam, tulang paha, lemak body, dan tulang muda ayam.

Setelah ayam karkas masuk ruang produksi fillet yang sebelumnya telah diseleski (grading) ukurannya oleh bagian packaging, makan proses fillet ayam pun dilakukan. dimulai dari pemisahan daging ayam bagian dada dari tulang yang melekat pada kerongkongan ayam menggunakan pisau tajam di bagian sisi-sisi daging dada ayam sampai terlepas semua dari kerongkongan dan kulitnya hingga daging dada fillet tersebut membentuk pola hati.

Setelah hasil dada fillet tersebut dipisahkan, maka ada sisa produksi dada fillet berupa kerongkongan ayam secara kasat mata, kandungan daging ayam yang masih melekat padanya banyak sekali. produk sampingan dada fillet berupa kerongkongan ayam ini sangatlah fast moving apabila dijual dalam kondisi fresh ke pasar-pasar tradisional dengan harga saat ini Rp 10,000 – 12,000/Kg.

Saya mengamati pola penggunaan kerongkongan ayam di pasar tradisional banyak digunakan untuk campuran bahan baku baso dan mie ayam, mengingat masih banyaknya daging yang melekat pada kerongkongan itu sendiri, juga harga yang relatif sangat murah bila dibandingkan dengan whole chicken, fillet dada, fillet paha terlebih lagi dengan daging sapi macam 95Cl… sangat jauh sekali selisih harganya ibarat langit dan sumur.

Campuran kerongkongan ayam itu dilakukan dengan cara digiling dengan mesin yang masih sederhana menghasilkan kerongkongan ayam giling bertekstur kasar karena tulang dan daging yang melekat pada kerongkongan ayam tidak serta merta bisa dipisahkan secara sempurna sehingga bila dijadikan produk olahan baso kelas low end maka hasilnya akan terasa kasar bila dikunyah karena tulang ayam tersebut tercampur penuh pada produk.

Serapan pasar tradisional akan kerongkongan ayam sangatlah tinggi bila harga daging ayam karkas mahal seperti saat ini yang tembus diangka 30000/kg, namun berbanding terbalik bila harga daging ayam karkas relatif stabil bahkan lebih murah diangka 18.000-22.000/Kg bisa dipastikan serapan pasar akan komoditi kerongkongan ayam ini sangat rendah, akibatnya para pedagang pasar tradisional enggan menjual kerongkongan ayam. mereka mengikuti ritme kebutuhan konsumen yang lebih menghendaki daging karkas ayam utuh (whole chicken), bagi home industri pemotongan ayam tradisional yang cenderung lebih fleksibel terhadap pasar, terjadinya penurunan kebutuhan kerongkongan ayam bukanlah masalah besar akan tetapi bagi Industri rumah potong ayam menengah kebawah terjadinya decreasing market demand ini menyebabkan terjadinya penumpukan stok di cold storage yang tentu sedikit banyak mengganggu cash flow industri rumah potong ayam.

Jalan ceritanya akan berbeda bila industri rumah potong ayam banyak memiliki mesin separator daging atau lazim dinamakan mesin MDM, bagi rumah potong ayam yang memproduksi ayam fillet sangat dianjurkan memiliki mesin separator daging ini karena disaat rutinitas produksi ayam fillet setiap hari berjalan, maka secara otomatis hasil produksi sampingan ayam fillet berupa kerongkongan ayam semakin bertambah, dengan memiliki mesin separator daging, maka kerongkongan ayam tersebut bisa di produksi sendiri menjadi daging kerongkongan ayam giling atau lazim disebut Mechanically deboned meat(MDM), terlebih lagi kualitas produksi pemisahaan daging dan tulang dari kerogkongan ayam bila menggunakan mesin separator daging akan sangat sempurna dimana proses mekanisasi yang diawali dengan dimasukkannya kerongkongan ayam ke dalam mesin separator lalu berjalan melewati screw lalu didorong masuk ke pisau screen
plate dengan rongga 1mm, di pisau screen plate inilah proses pemisahan terjadi dimana daging yang masih banyak menempel pada tulang kerongkongan dipisahkan oleh pisau dengan diameter mata pisau selebar 1mm sejumlah 1600 mata pisau, daging bertekstur halus akan melewati mata pisau yang sangat kecil tersebut sedangkan tulangnya masuk ke saluran pembuangan berupa ampas.

Daging hasil giling tersebut selanjutnya dipacking dan dimasukkan ke air blast freezer bersuhu -30 sampai -40, sedangkan ampas tulang ayam gilingnya (ampas) bisa dijual untuk pakan lele atau ke industri pakan ternak sebagai bahan baku tepung tulang(meat bone meal).

Kebutuhan mdm bagi industri makanan olahan sangatlah besar dikisaran 500-700 ton setiap bulannya,ini merupakan angin segar bagi industri rumah potong ayam untuk memacu kapasitas prodksi sebanyak banyaknya dengan kualitas, saranan prasarana yang cukup baik tentunya.

Perlu diketahui asosiasi industri makanan olahan indonesia sampai saat ini masih cukup banyak menggunakan mdm impor dengan dalih terbatasnya produksi mdm dalam negri, kualitas produksi yang belum terstandarisasi dan sarana sanitasi yang kurang baik adalah tantangan industri rumah potong ayam untuk melakukan self continuous improvement untuk mencapai standart kualitas raw material food processor, semoga!!

Jombang 19 Agustus 2014

Zafri Aristiawan
081235414422

Jual Boneless Dada Ayam Fillet

FILLET DADA

FILLET DADA

 

Boneless Dada Ayam Fillet   adalah   daging   dada   ayam   yang   telah dipisahkan dari tulang dan kulitnya. Boneless Dada Ayam Fillet  ini didapatkan dari karkas ayam broiler hidup terbaik ukuran 1,8-2Kg Up dan bebas dari penyakit flu burung.

Sebelum digunakan sebagai bahan baku produksi, daging ayam tersebut  terlebih dahulu diperiksa terlebih dahulu oleh QC. Pengawasan mutu dan bahan baku dilakukan secara visual dengan melihat penampakan dari daging ayam tersebut. Read the rest of this entry

 Page 16 of 28  « First  ... « 14  15  16  17  18 » ...  Last »