MOCH. ZAFRI ARISTIAWAN

Tepat pukul 00.00 tanggal 28 Maret 2015 Pemerintah melalui Kementerian ESDM menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar maupun premium sebesar Rp 500 per liter. Harga premium menjadi Rp 7.300 per liter, sementara harga solar menjadi Rp 6.900 per liter. Alasan Pemerintah menaikkan harga BBM karena menyesuaikan naiknya harga keekonomian minyak. Pada hari ini pula pukul 00.00  atau sebelumnya , harga ayam justru cenderung turun jauh dari harga keekonomian ayam broiler di angka Rp 14,500-15,000 per kilogram, realisasi harga ayam hidup pada jadwal penutupan  harga pengambilan tanggal 27 Maret 2015, rata-rata harga ayam broiler hidup turun Rp 500 per kilogram, seperti data yang diperoleh penulis dari asosiasi Pinsar yang merilis realisasi harga ayam broiler hidup (live bird) hari ini menunjukkan di daerah Jawa Tengah secara average harga live bird dikisaran Rp 11.000 per kilogram, di daerah Jawa Timur harga live birds dikisaran Rp 12.000 per kilogram sedangkan harga ayam hidup di Jabodetabek dikisaran Rp 13.000-14.000 per kilogram.

Sangat kontradiksi memang disaat BBM naik lazimnya masyarakat mengikuti penyesuaian harga kebutuhan pokok termasuk daging yang mestinya mengalami kenaikan juga, setelah diprediksi naik karena ada kabar Pemerintah memimpin pengurangan produksi 20% DOC(Day Old Chick/Anak Ayam Umur Sehari) mulai hari Sabtu, 28 februari 2015(sumber: Pinsar Indonesia) tepat satu bulan lalu ternyata tak bertuah hingga hari ini, kalau di break down kebelakang, semua peternak berfikir bahwa kalau memang ada pengurangan produksi DOC yang menjadi kesepakatan ditingkat nasioal, maka hari ini mestinya harga ayam broiler naik, apa hanya karena mindset kebanyakan peternak latah dengan isu tersebut lalu berbondong-bondong melakukan  chick-in kedalam kandang sebanyak-banyaknya sehingga saat panen hari ini tiba, jadwal panen produksi ayam broiler hidup bersamaan sehingga terjadi over produksi dan akhirnya mekanisme pasarlah yang berbicara, menawar harga ayam hidup semurah-murahnya.

Psikologis pembeli ayam broiler hidup dikandang tentu sudah mendapatkan informasi realisasi harga ayam hidup terkini, sehingga dengan mudah untuk mengambil decision untuk membeli harga ayam hidup didaerah yang harga penjualannya termurah di Indonesia, meskipun jaraknya cukup jauhpun pasti akan dicari dan dibeli tanpa menghiraukan resiko membengkaknya ongkos mahalnya transportasi akibat kenaikan harga BBM, juga adanya resiko penyusutan ayam hidup karena selama diperjalanan ayam tersebut mengeluarkan kotoran berjumlah banyak serta resiko tingginya kematian ayam saat proses transportasi perpindahan ayam dari habitat nyamannya hunian kandang close house menuju tempat tujuan akhir ayam hidup diproses oleh pembeli dapat dipastikan ayam mengalami stress berat karena belum bisa menyesuaikan kondisi ayam yang berdesak-desakan di keranjang pada armada pembawa ayam hidup hiingga akhirnya karena terjepit, terinjak, stress maupun penyakit berujung pada kematian.

Disparitas Harga Ayam Hidup

Adanya disparitas harga ayam hidup yang tidak seragam dan sudah tidak lagi ada pada nilai keekonomiannya ini menimbulkan masalah baru yaitu mutasi besar-besaran ayam hidup secara buatan, semisal harga ayam hidup di Jawa Tengah sangat murah, hal terebut mendorong pembeli dari daerah Jabodetabek mengambil serta membeli ayam hidup secara langsung dari daerah Jawa Tengah dengan mekanisme kesepakatan penentuan nilai nominal harga ayam ditimbang ulang ditempat tujuan, imbasnya para peternak di daerah Jabodetabek yang berharap hasil panen(ex-farm) bisa terjual harga tinggi terpaksa harus gigit jari karena pembeli  tidak jadi membeli ayam hidup dikandang peternak bersangkutan terlebih pembeli pasti membanding-bandingkan harga pembelian ayam hidup yang didapat didaerah lain harganya jauh lebih murah sehingga berdampak sistemik bagi peternak lain di daerah Jabodetabek karena sudah di K.O duluan secara psikologis pada harga jual ayam hidup, kalau problem ini, saya yakin Pemerintah dalam hal ini dinas peternakan sudah mengetahui masalah ini namun terlihat melakukan pembiaran secara nyata.

Kalau harga ayam hidup dibiarkan terlalu murah jauh dibawah harga pokok produksi seperti ini, secara alamiah maupun secara terencanakan para peternak kecil di Indonesia akan terseleksi alam by design dalam hitungan siklus satu atau dua kali panen. Saat peternak kecil sudah pada bagkrut semua giliran peternak besar yang memiliki integrated supply chain menjadi penguasa industri peternakan nasional tanpa memberikan ruang gerak pada peternak baru.

Jalan Pintas Pangkas DOC

Kabar berita bahwa Pemerintah memimpin pengurangan produksi 20% DOC mulai hari Sabtu, 28 februari 2015 bisa jadi meninabobokkan peternak, karena sungguh naïf kalau aturan itu hanya sebatas pada pemotongan produksi DOC dengan harapan agar jumlah populasi ayam hidup kedepannya bisa dikontrol dan dibatasi jumlahnya sehingga saat panen tiba harapannya harga ayam bisa terangkat naik cukup banyak. Wahai Pemerintah, ingatlah bahwa Negara Indonesia bukan hanya di Jawa yang merupakan sentra produksi ayam hidup terbesar di Negeri ini, masih ada wilayah NKRI lain yang minus peternakan ayam sangat membutuhkan pasokan daging ayam cukup banyak dengan harga terjangkau tentunya. Dengan adanya pembatasan jumlah DOC jelas merupakan tanda ketidak berdayaan Pemerintah dalam memberikan ruang gerak dan stimulus bagi peternak ayam di Indonesia, analoginya kalau memang populasi ayam hidup di Jawa sudah dirasa overproduksi dan khawatir kalau terus dibiarkan selama 30-40 hari kedepan setelah DOC masuk kandang terjadi panen massal dan berpengaruh pada turunnya harga ayam, tolong peternak dibantu regulasi kemudahan distribusi ke pelosok nusantara yang minus adanya daging ayam atau diberikan kemudahan perizinan untuk proses ekspor hasil ternak kalau dirasa produksi daging ayam dalam negeri sudah swasembada.

Minggu lalu saya bertemu dengan Bapak Lucky, penduduk dari daerah Maluku Barat Daya yang menceritakan betapa mahalnya harga daging ayam serta kebutuhan bahan pokok lain, Pak Lucky menuturkan “bahwa harga daging ayam Rp 70000 per kilogram sedangkan harga BBM di tingkat pengecer Rp 50000 per liter”. Bapak Lutfi di daerah Timika menuturkan “harga daging ayam di tingkat pengecer Rp 40000 per kilogram”, hal senada juga sampaikan oleh Bapak Rifky di Manado, “harga daging ayam di Manado hari ini ditingkat pedagang kecil Rp 38000 per kilogram”. Bisa dibayangkan betapa lebih mahal lagi apabila kebijakan Pemerintah melakukan upaya paksa jalan pintas dengan melakukan pemangkasan produksi DOC secara nasional, bisa dipastikan harga ayam kedepan jauh lebih mahal di daerah Jawa apalagi di daerah di luar pulau Jawa. Hal ini tentunya menguntungkan bagi peternak besar dan peternak kemitraan karena terbatasnya jumlah DOC sehingga jatah DOC dibagikan secara tebatas pada peternak besar dengan sistem kemitraan, sedangkan peternak kecil dengan sistem mandiri biasanya merasa kesulitan mendapatkan DOC, kalaupun dapat tentu harganya mahal.

Industri penetasan ayam (hatchery) kedepan bisa dikatakan kena pukulan telak karena semestinya secara korporasi diwajibkan meningkatkan kapasitas produksi DOC semaksimal mungkin, namun demi kebaikan dan kesepakatan bersama maka industry penetasan seharusnya patuh dengan intruksi dari Pemerintah tapa adanya insentif jelas buat mereka, bisa saja terjadi kesenjangan antara industry penetasan telur (hatchery) dan industry pakan ternak karena selama ini industry pakan ternak tidak tersentuh (untouchable) oleh Pemerintah, industry pakan ternak juga berperan dominan dengan populasi ayam broiler di Nusantara, beberapa industry pakan ternak besar terintegrasi dari hulu ke hilir bidang peternakan, mulai pabrik pakan ternak, budidaya indukan grand parent stock ayam broiler, penetasan ayam, budidaya ayam broiler, rumah pemotongan ayam, hingga further processing berupa pabrik makanan olahan.

Saatnya Ekspor Interisland dan Internasional

Bagi industry pakan ternak integrated seperti gambaran diatas merupakan suatu kerugian besar apabila mengikuti anjuran Pemerintah untuk memangkas produksi DOC secara ekstrim karena secara otomatis serapan pakan ternak bakal turun drastis terkecuali produksi pakan tetap berjalan normal produksi DOC berjalan normal pula untuk suplai dikalangan internal. Industry pakan ternak memiliki kepentingan cukup besar dengan menyikapi adanya instruksi pemangkasan produksi DOC secara nasional, karena kontrak import pembelian bahan baku pakan ternak terlanjur diteken, stok produksi pakan yang berjumlah ratusan ton sudah tersusun di gudang dan masa kadaluarsa pakan ternak sudah mendekat maka jalan satu-satunya adalah menggenjot produksi DOC sebanyak mungkin, semaksimal mungkin agar alur mata rantai produksi pakan ternak tidak jalan di tempat.

Menurut data United States Department Of Agriculture tahun 2014, Negara Indonesia memproduksi daging ayam broiler sejumlah 1.565 metric ton, sedangkan total konsumsi domestik penduduk Indonesia terhadap daging ayam broiler di tahun 2014 sejumlah 1.565 metric ton (http://www.fas.usda.gov/data/livestock-and-poultry-world-markets-and-trade) . Artinya jumlah produksi ayam broiler dalam negeri sudah terserap habis oleh kebutuhan konsumsi domestic dalam negeri.  Sedangkan proyeksi produksi ayam broiler Indonesia sampai bulan Oktober 2015 mendatang sejumlah 1.625 metric ton dan proyeksi serapan pasar domestik sampai bulan Oktober 2015 mendatang  equivalen sebesar 1.625 metric ton(apps.fas.usda.gov/psdonline/circulars/livestock_poultry.PDF).

Apabila Pemerintah mengklaim bahwa produksi ayam broiler di Indonesia berlebih, sudah selayaknya diberikan peluang untuk ekspor ke luar negeri karena menurut data USDA bulan Oktober 2014 yang lalu, Indonesia masuk dalam rangking 10 dunia produsen ayam broiler. Negara Amerika Serikat menjadi Negara peringkat pertama dunia produsen ayam broiler dengan jumlah 17.254 metric ton, China: 13.000 metric ton, Brazil: 12.680 metric ton, Uni Eropa: 10.070 metric ton, India: 3.725 metric ton, Rusia: 3.200 metric ton, Mexico: 3.060 metric ton, Argentina: 2.100 metric ton, Turki: 1.755 metric ton, Thailand: 1.570 metric ton, Indonesia: 1.565 metric ton.

Melihat kondisi produksi daging ayam broiler yang impas dengan kebutuhan konsumsi domestik, Negara Indonesia selayaknya meningkatkan produksi semaksimal mungkin untuk kran ekspor, bukannya malah memotong jumlah produksi. Sudah saatnya Pemerintah mendorong serta memberikan insentif bagi perusahaan unggas yang terintegrasi serta peternak lokal mandiri untuk melaksanakan ekspor daging ayam keluar negeri serta memberikan kemudahan sarana prasarana pendukung  jalur distribusi daging ayam ke penjuru negeri sebagai antisipasi adanya overproduksi daging ayam nasional serta lebih mendekatkan daging ayam ke daerah-daerah diluar pulau jawa secara dinamis dan berkelanjutan, Semoga!

Jombang, 28 Maret 2015

 

*Moch. Zafri Aristiawan

Penikmat Daging Unggas

www.afco.co.id