MOCH. ZAFRI ARISTIAWAN

Saat ini harga ayam broiler cenderung turun jauh dibawah Harga Pokok Produksi (HPP), harga ayam hidup terus tergerus diharga Rp 10.000/Kg di daerah Lombok Nusa Tenggara Barat, serta di daerah Bali berkisar Rp 12.000/Kg, dibeberapa daerah lain seperti di Jawa Timur dan Jawa Tengah harga ayam hidup berkisar Rp 14.000-14.500/Kg setelah sebelumnya sempat turun diangka Rp 13.000-13.500/Kg(Pinsar 18/10/2015), hal tersebut sangat kontradiksi dengan adanya kabar adanya pemangkasan jumlah indukan ayam(Parent Stock) yang di inisiasi oleh Asosiasi PINSAR dan GOPAN bersama Pemerintah secara bertahap sejumlah dua juta sampai enam juta ekor pada bulan September-Oktober tahun ini, pemangkasan jumlah indukan ayam tersebut tidak lain bertujuan untuk mengurangi peredaran jumlah populasi anak ayam umur sehari(DOC) yang berlebih, bila jumlah DOC berlebih maka potensi overproduksi ayam broiler cukup tinggi apabila tidak di imbangi serapan pasar secara maksimal, adanya pemangkasan jumlah indukan ayam sangat diharapkan bisa menaikkan harga jual ayam hidup diatas harga keekonomian sekarang.

Jurus pemangkasan jumlah indukan ayam broiler nampaknya belum nyata terbukti ampuh bisa menaikkan harga jual ayam hidup lebih baik setidaknya pada awal sampai pertengahan bulan oktober ini, memang dalam dunia ayam broiler peran pasar sangat dominan.  Apabila tidak disikapi dengan kompak dan terukur maka para peternaklah yang akan merugi.

Di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah, faktor bulan juga berpengaruh pada harga ayam broiler, seperti pada bulan Oktober saat ini bertepatan dengan Bulan Suro(Jawa) serapan pasar tradisional melemah pada umumnya karena kepercayaan adat Jawa pada bulan Suro merupakan bulan yang dihindari untuk melaksanakan hajatan, dengan melemahnya serapan pasar tradisional tersebut sangat berdampak pada jumlah serapan pembelian ayam hidup di tingkat peternak karena prosentase kebutuhan pasar tradisonal akan ayam broiler saat ini sekitar 40%, sedangkan Rumah Potong Ayam Skala Besar berkisar 60%.

Jadwal siklus melemahnya serapan pasar pada bulan-bulan tertentu di daerah Jawa, biasanya sudah  disikapi oleh Peternak dengan jalan mengurangi jumlah Chick in untuk mewaspadai  momen serapan pasar rendah.  Saat Bulan Suro ini apabila banyak peternak yang mengurangi jumlah chick in ditambah lagi dengan efek domino pemangkasan jumlah indukan ayam broiler maka saya optimis harga ayam bisa terangkat naik secara maksimal pada dua minggu terahir dibulan Oktober ini.

Menaikkan nilai harga jual ayam broiler ditengah kondisi ekonomi yang masih lesu seperti sekarang tidaklah mustahil apabila para peternak melalui Asosiasi bisa kompak mengawal harga ayam broiler lebih baik lagi. Apabila pasar “ dikondisikan” dengan harga ayam broiler selalu murah dibawah biaya pokok produksi jelas akan mengancam keberlangsungan keberadaan peternak Indonesia dalam menyediakan daging ayam berkualitas.

Jombang, 18 Oktober 2015

Zafri Aristiawan
Penikmat Daging Unggas

*tulisan diatas merupakan opini pribadi.