Proses pengurangan populasi ayam parent terus dilakukan untuk mengurangi overpopulasi ayam saat ini, dengan harapan supply bisa berimbang dengan permintaan.
Namun, sebagaimana diketahui bersama bahwa bulan depan sudah memasuki bulan puasa maka otomatis serapan pasar meningkat. Sebenarnya ada kontradiksi dimana waktu penyerapan pasar cukup besar sepuluh hari menjelang awal bulan puasa hingga hari ke sepuluh bulan puasa tidak di imbangi dengan penambahan jumlah populasi maka yang akan terjadi adalah harga ayam akan tinggi.
Secara pribadi, saya sependapat dengan adanya polese yang mensyaratkan adanya pengurangan jumlah populasi ayam parent skala nasional hanya saja waktunya yang tidak pas, karena mendekati bulan puasa dan lebaran.
Karena imbas dari aturan tersebut adalah adanya ketimpangan antara permintaan pasar yang cikup tinggi sedangkan suply dari peternak kurang maksimal, akibatnya konsumen akan mendapatkan harga yang lebih mahal.
Disisi peternak(terutama peternak mandiri) pun juga akan mengalami dilema, saat akan melakukan chick in akan mengalami kendala sulitnya mendapatkan DOC(anak ayam umur sehari) karena perusahaan hatchery(penetasan telur ayam) akan memprioritaskan internal farm sendiri.
Semoga, jurus pemangkasan populasi ayam parent ini tidak selalu menjadi ajian pamungkas untuk mengurangi populasi ayam hidup di lapangan atau ajian instant untuk menaikkan harga ayam hidup yang selama tiga bulan terahir jauh dibawah harga pokok produksi alias terlampau murah.
Saya lebih cenderung untuk tetap memaksimalkan populasi, karena kita tidak membicarakan bahwa yang overpopulasi ini adalah daerah Jawa dan Sumatera akan tetapi lebih memandang keseluruhan wilayah Indonesia dimana sering dibaca di media massa bahwa harga daging ayam di Indonesia Timur cukup mahal dan jumlahnya terbatas meskipun secara faktual di pulau Jawa dan Sumatera mengklaim ayam sudah overpopulasi, ayam banjir, ayam murah namun saudara kita di Indonesia Timur masih mendapatkan harga cukup mahal.
Peran Pemerintah dalam hal ini dinas Peternakan seharusnya lebih bisa dimaksimalkan lagi untuk memfasilitasi dan membuat kebijakan “Ramah Peternak”, kalau disimpulkan bahwa populasi ayam hidup di Jawa dan Sumatera sudah terlalu banyak, maka solusinya bagaimana ayam tersebut bisa disalurkan ke daerah lain yang masih kekurangan dalam bentuk daging ayam karkas.
Kalau sudah disalurkan merata ke seluruh Nusantara masih berlebih ya bisa diupayakan untuk di eksport.
Semangat produktifitas ini selaiknya perlu mendapatkan perhatian penuh dari Pemerintah.

Wallahu A’lam Bishawab,

Moch Zafri Aristiawan