Mendapatkan bahan baku ayam karkas 0.8 yaitu berupa ayam hidup ukuran 1.1Kg dari peternak ayam broiler tidaklah mudah karena, para peternak cenderung lebih memilih memproduksi ayam broiler hidup dengan ukuran lebih besar, semakin besar ukuran dan berat bobot ayam broiler maka diharapkan keuntungan yang didapat akan lebih maksimal.

Untuk mendapatkan ayam hidup dengan berat 1,1Kg dari peternak, banyak upaya yang dilakukan oleh pihak rumah potong unggas dalam menyakinkan para peternak untuk memproduksi ayam broiler hidup dengan ukuran yang dikehendaki pihak rumah potong ayam.

Salah satuupaya yang paling lazim digunakan adalah adanya pemberian insentif atau berupa kontrak harga fix dengan memberikan tambahan beberapa ribu rupiah diatas harga pokok produksi.

Dengan melihat perhitungan selisih keuntungan yang didapat serta efektifitas keberlangsungan siklus atau perputaran pemeliharaan ayam dikandang yang bisa dipanen dalam umur 25 hari, para peternak akan bisa mendapatkan jadwal Çhick in lebih banyak dan otomatis jumlah panen lebih banyak pula.

Melihat tren kebutuhan daging ayam yang semula dominan kearah ukuran jumbo dan sekarang sudah mulai banyak bergeser kearah ukuran “baby chicken” maka pihak peternak, baik itu peternak kemitraan maupun peternak mandiri ayam hidup menangkap peluang ini dengan perhitungan faktor resiko serta laba-rugi apabila memproduksi ayam hidup ukuran kecil mulai ayam ukuran 1.0-1.3kg.

Pengalaman dilapangan, peternak sistem kemitraan biasanya menjual ayam broiler hidup ukuran 1.0-1.2 lebih mahal dari ayam ukuran jumbo dan seringkali dijual sepaket ayam kecil dan ayam jumbo.

Didunia peternakan ayam broiler, faktor gambling cukup tinggi karena semua peternak mengetahui biaya produksi mulai chick in sampai panen dalam nominal rupiah, yang menjadi kendala adalah ketidakpastian harga saat panen.

Ketidakpastian dan fluktuasi ekstrim naik turunnya harga inilah yang membuat peternak was-was sehingga mebuat para peternak banyak berdoa pada Tuhan agar saat jadwal panen ayam tiba, harganya tinggi.

Namun saat peternak dihadapkan dengan murahnya harga ayam saat panen tiba, maka pilihannya adalah dijual saat itu juga ataupun mengambil tindakan menahan untuk tidak menjual alias menambah masa produksi ayam broiler size 1.0-1.2 ini menjadi ukuran 2.0Kg keatas dengan harapan adanya peningkatan harga saat panen ukuran ayam besar tersebut.

Beberapa tahun lalu apabila para peternak menjual ayam hidup ukuran 1.0-1.2 bisa dipastikan bahwa ayam yang dijual tersebut merupakan ayam dalam tanda kutip “Ayam Sakit” atau bisa saja terjadi “Slow Growth”, atau ada faktor lain berupa musibah kandang roboh ataupun peternak melihat tren harga yang semakin menurun maka keputusan menjual ayam broiler hidup ukuran kecilpun menjadi pilihan.

Namun kini semua berubah, justru para peternak berlomba-lomba untuk memproduksi ayam kecil untuk memenuhi permintaan konsumen akan daging ayam karkas 0.7kg, ayam karkas 0.8 hingga ayam karkas ukuran 0.9kg per-ekor.

Selain ukuran ayam broiler hidup size 1.0-1.2kg per-ekor, ayam broiler hidup minimal ukuran 1.7up masih sangat dominal digemari oleh konsumen lokalan serta kebutuhan konsumen industry untuk digunakan sebgai bahan baku ayam fillet.

Sebagai pelaku produksi pemotongan ayam, RPA Wahana Sejahtera Foods merangkul semua peternak diseluruh wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah untuk memastikan kebutuhan bahan baku ayam hidup bagi RPA Wahana Sejahtera Foods.

RPA Wahana Sejahtera Foods sebagai mitra peternak selalu bergantung pada pasokan ayam hidup dengan ukuran tertentu kepada para peternak diseluruh wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah untuk tumbuh dan berkembang bersama dalam proses mata rantai penyediaan daging ayam karkas mulai dari ukuran ayam karkas 0.5kg hingga ayam karkas 1.8kg.

Jombang, 29 Januari 2017

 

 

Moch. Zafri Aristiawan

Penikmat Daging Unggas